You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Sidomulyo
Desa Sidomulyo

Kec. Kesesi, Kab. Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah

MOHON MAAF, WEB DALAM PERBAIKAN

Sejarah Desa

Administrator 06 November 2024 Dibaca 211 Kali

Ki Ageng Cempaluk (sebutan lain Tumenggung Kyai Ngabehi Bahureksa atau Ki Gede Syekh Hasan Pekalongan) adalah ayah dari Tumenggung Bahureksa (Jaka Bahu) yang pernah hidup pada masa berakhirnya Kesultanan Pajang dan berdirinya Kesultanan Mataram.

Ki Ageng Cempaluk adalah sahabat dekat atau orang yang dipercaya oleh Pangeran Benawa (Sultan Pajang ke-3), mendampingi Pangeran Benawa mulai dari Pajang pindah ke Jipang dan setelah Pangeran Benawa lengser dari Tahta Keprabon memutuskan untuk berkelana ke daerah barat bersama empat orang sahabatnya termasuk Ki Ageng Cempaluk kemudian membuka Alas Kukulan (Kendal), Alas Roban (Batang), Alas Gambiran (Pekalongan).

Oleh Pangeran Benawa, Ki Ageng Cempaluk diserahkan pada Panembahan Senopati (Sultan Mataram ke-1) di Mataram sebagai ganti atau wakil atas nama Pangeran Benawa. Ki Ageng Cempaluk dengan putranya Jaka Bahu (Bahureksa) memiliki hubungan sangat dekat dengan Panembahan Senopati (Sultan Mataram ke-1).

Karena dharma baktinya kepada Mataram yang besar Ki Ageng Cempaluk diberi gelar Tumenggung Kyai Ngabehi Bahureksa serta tanah perdikan (daerah otonomi) di wilayah Kesesi  Kabupaten Pekalongan. Dengan usia yang sudah tua, Ki Ageng Cempaluk berniat untuk menyingkir (menyisih) ke tanah Perdikannya. Kegiatan ini dilakukan untuk mengasingkan diri dari keramaian duniawi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kesesi berasal dari kata dalam bahasa Jawa "Kesisih" yang berarti tersingkir, ada pula yang mengatakan Kesesi sebagai daerah tak bertuan yang menjadi tempat pelarian para pejabat kerajaan yang kabur dan cerita-cerita konotasi negatif lainnya.

Dalam tutur babad Alas Roban dan Alas Gambiran, Ki Ageng Cempaluk dan putranya Bahureksa mendapat kepercayaan dari Sultan Mataram untuk membuka lahan baru bagi kerajaannya. Keduanya merupakan tokoh utama yang mampu mengatasi berbagai masalah dan kendala dalam tugas atas titah raja sewaktu membuka Alas Roban dan Alas Gambiran yang penuh dengan berbagai kesulitan dan tatangan yang bersifat nyata maupun gaib.

Hingga pada puncak karir putranya yaitu  Bahureksa mendapat pangkat sebagai Bupati Wedana Peisisiran Kulon yang wilayahnya mencangkup seluruh Kadipaten di pesisir Pulau Jawa mulai dari Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang hingga Tegal.

Desa Sidomulyo adalah perluasan dari Daerah Kesesi, "Sido" yang berarti "Jadi/Menjadi/Sudah" dan "Mulyo" yaitu "Mulia/Kemuliaan/Kemakmuran/Sejahtera" sehingga kata arti "Sidomulyo" yaitu suatu doa kepada seluruh warga untuk menuju atau menjadi orang yang mulia atau sejahtera, karena memang Desa Sidomulyo merupakan gabungan dari beberapa wilayah yaitu, Karanganyar, Semangu, dan Kwaringan.

Ada 2(dua) tokoh penting dalam babat terbentuknya desa Sidomulyo yaitu Mbah Depok untuk wilayah Dukuh Kwaringan dan Mbah Wiromangu untuk wilayah dukuh Semangu. Dimana makam masing-masih tokoh tersebut di keramatkan dimasing-masing Pasarean Dukuh masing-masing.

Memasuki tahun 1908, pada saat itu masih masa perjuangan kemerdekaan di tunjuklah Demang Pertama yaitu KASTOERI (masa jabatan 1908-1920), kedua dilanjutkan ROETOEG (1920-1930), ketiga SINGAD (1930-1936), keempat RASIDJAN (1936-1941), kelima DJAHARI (1941-1946), setelah kemerdekaan tongket kepemimpinan dilanjutkan oleh SOEMARDI (1946-1989), A.SADI (1989-1991).

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image